Rabu, 02/08/26
KHUTBAH: DI MANA ALLAH MENEMPATKAN KITA?
Hadirin rahimakumullāh.
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhānahu wa Ta‘ālā. Sebab ukuran kemuliaan seorang manusia bukanlah harta, jabatan, popularitas, banyaknya pengikut, ataupun tingginya kedudukan di hadapan manusia.
Allah Subhānahu wa Ta‘ālā berfirman:
> إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Ḥujurāt: 13)
Hadirin rahimakumullāh,
Ada sebuah kalam hikmah yang sangat dalam dari Ibnu ‘Aṭā’illāh as-Sakandarī رحمه الله:
> إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَعْرِفَ قَدْرَكَ عِنْدَهُ، فَانْظُرْ فِيمَا أَقَامَكَ فِيهِ
“Jika engkau ingin mengetahui kedudukanmu di sisi Allah, maka perhatikanlah dalam perkara apa Allah menempatkanmu.”
Kalimat ini mengajak kita bercermin kepada kehidupan kita sendiri.
Bukan bertanya, “Saya ini hebat atau tidak?”
Bukan pula, “Orang lain menganggap saya penting atau tidak?”
Tetapi bertanya:
“Untuk apa Allah menempatkan saya di dunia ini?”
—
HADIRIN RAHIMAKUMULLAH
Pertama: Jangan mengukur kemuliaan dengan posisi di hadapan manusia
Kadang kita merasa rendah karena pekerjaan kita sederhana.
Tidak punya jabatan.
Tidak terkenal.
Tidak memiliki banyak harta.
Tidak memiliki banyak pengikut.
Padahal Allah tidak melihat manusia dengan ukuran yang kita gunakan.
Bilal رضي الله عنه dahulu bukan seorang bangsawan. Ia seorang budak yang mengalami berbagai macam penyiksaan. Tetapi karena iman dan keteguhannya, Allah mengangkat derajatnya.
Bilal mungkin tidak memiliki jabatan besar di dunia, tetapi memiliki kedudukan besar dalam iman.
Maka jangan malu menjadi orang sederhana selama kita berada dalam ketaatan.
Bisa jadi seseorang hanya seorang guru ngaji di kampung.
Bisa jadi pekerjaannya membersihkan masjid.
Bisa jadi setiap hari ia memasak untuk keluarganya.
Bisa jadi ia hanya mengurus orang tua yang sudah lanjut usia.
Tidak banyak yang melihat.
Tidak banyak yang memuji.
Tetapi kalau semua itu dilakukan karena Allah, bisa jadi justru di situlah Allah sedang menempatkan kemuliaannya.
Allah berfirman:
> وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ
“Kebaikan apa saja yang kamu kerjakan untuk dirimu, niscaya kamu akan mendapatkannya di sisi Allah.”
(QS. Al-Baqarah: 110)
Maka jangan terlalu sibuk mencari pengakuan manusia, sampai lupa mencari keridaan Allah.
—
Kedua: Perhatikan apa yang Allah percayakan kepada kita
Hadirin rahimakumullāh,
Setiap orang diberi Allah tempat dan amanah yang berbeda.
Ada yang diberi kemampuan mengajar.
Ada yang diberi kemampuan mencari nafkah.
Ada yang diberi kesempatan merawat orang tua.
Ada yang diberi kesempatan mendidik anak.
Ada yang diberi harta sehingga bisa bersedekah.
Ada yang diberi ilmu sehingga bisa membimbing masyarakat.
Ada yang tidak memiliki banyak harta, tetapi Allah memberinya hati yang mudah menolong.
Jangan terus bertanya:
“Mengapa hidup saya tidak seperti dia?”
Tetapi ubahlah pertanyaan itu menjadi:
“Apa yang Allah ingin saya lakukan dengan apa yang saya punya?”
Rasulullah ﷺ telah menunjukkan kepada kita bahwa para sahabat memiliki peran yang berbeda-beda.
Ada Abu Hurairah رضي الله عنه yang begitu tekun menjaga ilmu dan meriwayatkan hadis.
Ada Bilal رضي الله عنه dengan keteguhan imannya.
Ada Abu Bakr رضي الله عنه dengan pengorbanannya.
Ada ‘Utsmān رضي الله عنه dengan kedermawanannya.
Ada ‘Alī رضي الله عنه dengan keberanian dan ilmunya.
Mereka tidak harus menjadi orang yang sama untuk menjadi mulia.
Mereka menjadi mulia karena menjalankan peran yang Allah berikan kepada mereka dengan sebaik-baiknya.
—
Ketiga: Ukurlah kedudukanmu di sisi Allah dengan melihat kedudukan Allah di dalam hatimu
Hadirin rahimakumullāh,
Inilah bagian yang paling dalam.
Fudhail bin ‘Iyādh رحمه الله memberikan nasihat bahwa seorang hamba dapat mengetahui kedudukannya di sisi Allah dengan melihat kedudukan Allah di dalam hatinya.
Maka mari kita bertanya kepada diri sendiri.
Ketika Allah memanggil kita dengan azan, mana yang kita dahulukan?
Ketika Al-Qur’an memanggil kita untuk membaca, berapa waktu yang kita berikan?
Ketika Allah memerintahkan sedekah, apakah tangan kita ringan atau terasa berat?
Ketika dunia menawarkan keuntungan tetapi harus meninggalkan kewajiban, siapa yang kita pilih?
Hari ini seseorang bisa menghabiskan berjam-jam melihat layar handphone.
Scroll demi scroll.
Video demi video.
Tetapi membaca Al-Qur’an beberapa halaman terasa berat.
Kita bisa mengingat banyak hal yang viral.
Tetapi lupa dengan ayat Allah.
Kita cepat menjawab panggilan manusia.
Tetapi lambat memenuhi panggilan Allah.
Maka jangan hanya bertanya:
“Seberapa tinggi kedudukan saya di mata manusia?”
Tetapi tanyakan:
“Seberapa tinggi kedudukan Allah di dalam hati saya?”
Allah berfirman:
> وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
“Barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu termasuk ketakwaan hati.”
(QS. Al-Ḥajj: 32)
—
HADIRIN RAHIMAKUMULLAH
Kita sering ingin dinaikkan derajatnya oleh manusia.
Ingin dihormati.
Ingin dikenal.
Ingin dipuji.
Ingin dianggap penting.
Tetapi Hikam mengajarkan kepada kita:
Jangan terlalu sibuk mencari tempat di hati manusia sebelum memastikan tempat Allah di dalam hati kita.
Sebab bisa jadi seseorang tidak dikenal manusia, tetapi dikenal oleh penduduk langit.
Bisa jadi seseorang tidak pernah masuk media sosial, tetapi amalnya tercatat mulia di sisi Allah.
Bisa jadi seseorang tidak memiliki banyak pengikut, tetapi banyak malaikat mendoakannya.
Dan bisa jadi seseorang memiliki nama besar di dunia, tetapi kehilangan nilainya karena hatinya jauh dari Allah.
Maka mulai hari ini, mari kita membaca kehidupan kita dengan pertanyaan:
“Allah sedang menempatkan saya di mana?”
Kalau Allah menempatkan kita dalam keluarga, jadilah keluarga yang membawa keberkahan.
Kalau Allah menempatkan kita sebagai orang tua, jadilah orang tua yang mendidik dengan iman.
Kalau Allah menempatkan kita sebagai guru, jadilah guru yang menyalakan ilmu.
Kalau Allah menempatkan kita sebagai pengusaha, jadilah pengusaha yang halal dan dermawan.
Kalau Allah menempatkan kita sebagai santri, jadilah santri yang berilmu dan berakhlak.
Kalau Allah menempatkan kita sebagai pelayan umat, jangan menunggu terkenal untuk mulai bermanfaat.
Karena yang kita cari bukan posisi di hadapan manusia.
Yang kita cari adalah:
KEDUDUKAN DI SISI ALLAH.
Hadirin rahimakumullāh,
Semoga Allah menempatkan kita pada jalan yang diridai-Nya, menghidupkan hati kita dengan iman, menjadikan pekerjaan kita sebagai ibadah, keluarga kita sebagai sumber keberkahan, dan setiap tempat yang kita tempati menjadi tempat tumbuhnya kebaikan.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا عِنْدَكَ مِنَ الْمَقْبُولِينَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ، وَأَقِمْنَا فِي مَقَامِ الطَّاعَةِ وَالرِّضَا.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Jika ingin mendapat Informasi kajian :
HUBUNGI ADMIN : 0811-1654-849
Leave a Comment